Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan sejati, maka ingatan kita akan melayang pada perjuangan para pahlawan yang mengusir penjajah asing dari tanah air. Mereka yang berkorban mempertaruhkan harta, keluarga bahkan nyawa mereka demi satu cita-cita : terbebas dari penindasan dan memiliki kebebasan menentukan masa depan sendiri. Namun, saat ini ada satu bentuk penjajahan yang luput dari perhatian kita -penjajahan yang datang bukan dari bangsa lain, tetapi dari bangsa kita sendiri.
Penjajahan bangsa sendiri adalah ketika sesama anak negeri saling menindas, mengambil hak orang lain, dan memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Bentuknya bisa beragam: korupsi yang menggerogoti kesejahteraan rakyat, penyalahgunaan wewenang, eksploitasi sumber daya tanpa memikirkan kelestarian, hingga menyebarkan kebohongan yang memecah belah persatuan.
Dalam pandangan Islam, perbuatan menzalimi orang lain, apalagi sesama Muslim, adalah dosa besar.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dalam kesulitan…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ayat Al-Qur’an juga dengan tegas melarang tindakan yang merugikan orang lain
“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188)
Kemerdekaan sejati menurut Islam bukan sekadar terbebas dari belenggu penjajah asing, tetapi juga bebas dari segala bentuk kezhaliman yang dilakukan oleh tangan sendiri. Jika di masa lalu musuh datang dengan senjata dan bendera asing, maka kini musuh itu bisa berwujud keserakahan, kecurangan, kemalasan, dan hilangnya rasa amanah. Merdeka dari penjajahan bangsa sendiri berarti membebaskan diri dari sifat-sifat buruk tersebut. Itu berarti menghidupkan kembali nilai-nilai amanah, kejujuran, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Kita tidak bisa mengaku telah merdeka jika di tengah masyarakat masih ada yang lapar karena haknya dirampas, atau generasi muda kehilangan masa depan akibat kebijakan yang zalim.
Hari kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk muhasabah. Apakah kita sudah benar-benar memaknai kemerdekaan, ataukah hanya puas dengan perayaan simbolis tanpa menghilangkan penindasan yang ada? Kemerdekaan sejati adalah ketika seluruh rakyat bisa hidup dengan tenang, hak-hak mereka dihormati, dan keadilan ditegakkan. Islam mengajarkan bahwa kebebasan sejati adalah kebebasan yang mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah. Maka, mari kita jaga kemerdekaan ini dengan menghapus segala bentuk penjajahan dari dalam negeri sendiri—agar kemerdekaan yang diwariskan para pejuang menjadi warisan kebaikan dan tongkat estafet perjuangannya abadi diteruskan hingga generasi di masa depan, sehingga membawa keberkahan bagi semua, di dunia dan akhirat.

