Ramadhan, momentum pembersihan hati yang diibaratkan tubuh apabila sakit dan terluka maka sudah sepatutnya kita membersihkan dan mengobati lukanya agar ia lekas sembuh tidak menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Begitu pula hati kita, yang diciptakan menjadi sarang banyak penyakit hati, maka seperti luka tubuh tadi, hati pun perlu kita bersihkan dari dosa-dosa yang menutupi kejernihan hati kita dan menjadi penghalang kita dalam mengerjakan amal-amal shalih. Hati sebagai sentral perbuatan anggota tubuh akan ikut juga dimintai pertanggungjawabannya di akherat nanti.
اِنَّ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔوۡلًا
“..karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
(QS. Al Isra : 36)
Seharusnya memeriksa kondisi hati menjadi prioritas kita, apakah penuh dengan dosa atau tidak? target kita harusnya membersihkan hati kita, mungkin banyak sekali tumpukan dosa di masa lalu apalagi dosa-dosa yang sangat halus dan tidak dirasakan, tapi bisa membahayakan dan membinasakan diri kita serta menghancurkan ketenangan dan menjadi sumber kegeisahan. Coba sejenak kita renungkan, dalam sehari rata-rata kita mandi 2 kali sehari. Kita selalau ingin merasa bersih dari segala macam bentuk kotoran yang menempel ditubuh kita, selalu ingin berpakaian bersih. Semua kita lakukan untuk membersihkan lahir kita supaya indah dipandang manusia. Lalu pertanyaannya, berapa kali kita membersihkan hati kita dari berbagai dosa? Tak takutkah jika hati kita penuh dosa? Padahal saat kembali kepaada Allah, seluruh anggota tubuh dan juga hati kita akan dimintai pertanggungjawaban, sedangkan perjumpaan dengan Allah hanya bisa dengan hati yang bersih?
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih.
(QS. Asy-Syu’ara’/26: 88-89)
Saat hati kita sudah mulai dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan dosa, Allah SWT memberikan masalah sebagai teguran untuk membuat diri sadar bahwa seharusnya hati hanya dipenuhi oleh-Nya. Pada puncaknya. Allah SWT mencabut apa yang menjadi pusat kecintaan yang mengambil posisi-Nya dalam hati kita. Teguran Allah yang hadir baik melalui harta, anak, suami/istri, rekan kerja dan lain sebagainya.
Tentunya, momentum Ramadhan yang hadir di tahun ini, menjadi salah satu kesempatan dan ke-Maha Baikan Allah yang dihadirkan untuk ummatnya, selain untuk mencapai derajat takwa, juga kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari dengan pembersihan hati dan diri. Manifestasi atas dosa-dosa diri yang hadir dalam bentuk masalah demi masalah, harusnya menjadi salah satu hal yang perlu kita periksa. Periksa dosa-dosa kepada Allah dan kesalahan pada manusia, dosa-dosa besar dan kecil, khususnya dosa-dosa halus yang dilakukan tanpa disadari dan berulang-ulang. Bisa jadi pula dosa-dosa itu terakumulasi sejak baligh. Allah SWT mencatatnya dengan sempurna dan belum sempat ditaubati, kalaupun sudah ditaubati tapi belum cukup menghapus semua dosa mungkin masih ada sisa dosa yang terlupakan dan akan terhapus hanya dengan teguran dari Allah berupa penderitaan.
Tidak seorang mukmin ditimpa sakit, kelelahan, kesedihan dan sampai duri yang menusuk, kecuai dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya”
(HR. Bukhari)
Apa saja dosa yang perlu diperiksa dalam momentum muhasabah di bulan Ramadhan tahun ini, yaitu diantaranya :
1. Memeriksa dosa-dosa halus
Dosa lahir yang telah dilakukan akan lebih mudah diingat dan disadari. Namun, dosa hati yang halus sering dilakukan tanpa sengaja dan tidak disadari, terlupa dan berulang-ulang. Padahal dosa ini mampu menjadi sumber kegelisahan yang menghancuran ketenangan. Dosa-dosa halus biasanya merupakan dosa-dosa yang ditimbulkan dari hati. Dosa yang lahir akibat merasa lebih baik dan sombong kepada orang lain, meremehkan orang lain, ujub, takabur, dan hasad. Begitupula dengan dosa akibat prasangka buruk terhadap orang lain, gemar berghibah(membicarakan kejelekan orang), menyebarkan kebencian kepada orang, termasuk dosa memfitnah orang lain dan juga mengadu domba(namimah).
2. Memeriksa dosa-dosa membahayakan
Dosa membahayakan artinya bahwa setiap dosa yang dilakukan akan membuat jauh dari Allah SWT. Hti tertutup oleh dosa sehingga tidak bisa merasakan nikmatnya ibadah, hati terasa kosong juga kering, mendapatkan ilmu hanya sekedar pengetahuan namun tidak diamalkan dengan ikhlas. Yang paling tak nyaman dari bahaya dosa adalah membuat hati gelisah tak bahagia.
3. Dosa membinasakan
Rasulullah SAW bersabda, “Tinggalkanlah tujuh dosa yang dapat membinasakan.” Lalu Sahabat bertanya, “Apakah itu Ya Rasulullah?”, Rasulullah SAW menjawab, “Dosa syirik(mempersekutukan Allah), melakukan sihir(tenung), membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah SWT kecuali dengan hak, makan harta riba, makan harta anak yatim, mearikan diri dari perang jihad pada saat perang berlangsung dan menuduh perempuan mukmin yang baik melakukan zina.” (HR. Bukhari Muslim)
Adapun cara memeriksa atau mendeteksi atas dosa-dosa diri dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Pertama, memiliki waktu khusus berdua dengan Allah SWT dengan terus menerus bermuhasabah yaitu meninjau ulang seluruh perbuatan dengan memeriksa seluruh anggota tubuh sejak baligh. Setiap terbersit keinginan untuk melakukan perbuatan yang tidak disukai Allah SWT, hati kembali menghitung ganjaran apa yang kelak akan di dapat di dunia dan di akhirat
اِنَّ الَّذِيۡنَ اتَّقَوۡا اِذَا مَسَّهُمۡ طٰۤٮِٕفٌ مِّنَ الشَّيۡطٰنِ تَذَكَّرُوۡا فَاِذَا هُمۡ مُّبۡصِرُوۡنَۚ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raaf : 201)
Kedua, memiliki guru yang tingkat keilmuan dan keyakinannya kepada Allah SWT tinggi. Guru ini akan mampu menasehati kita.
Ketiga, memiliki sahabat dekat yang dapat dipercaya dan jujur untuk memberitahu kita segala kesalahan dan kekurangan kita.
Keempat, memanfaatkan lisan orang lain yang membenci, memusuhi, mengetahui lengkap kekurangan kita, karena setiap saat dia memikirkan kita dan mencari-cari kesalahan kita.
Kelima, menjadikan setiap kejadian dalam hidup kita sebagai pelajaran yang dapat membuka aib diri kita.
Tidak dipungkiri, terkadang dalam proses memeriksa atau muhasabah diri terdapat banyak kendala yang mewarnai proses dalam memeriksa dosa-dosa diri, beberapa diantaranya yaitu :
1. Takabur atau sombong
Orang yang sombong akan menolak ketika diberikan nasehat dari orang-orang terdekatnya. Setiap orang akan dipandang sinis karena di dalam hatinya merasa paling tahu masalah yang ia hadapi. Dalam keadaan terjepit masalah, hatinya akan merasa sendirian dan orang lain tidak tahu apa-apa tentang masalahnya. Ia merendahkan orang lain dan menolak kebenaran jika temannya memberikan masukan. Sebaliknya, dia akan marah apabila merasa tidak dihargai.
لَا جَرَمَ اَنَّ اللّٰهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّوۡنَ وَمَا يُعۡلِنُوۡنَؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡتَكۡبِرِيۡنَ
“Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka tampakkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.”
(QS. An-Nahl : 23)
Orang sombong akan sulit mengakui kesalahan diri. bagaimana bisa bertaubat dan menyesali dosa yang sudah dilakukan apabila mengaukinya saja tidak mampu. Untuk mengakui dan menyadari dengan penuh terus terang kepada Allah SWT, kesombongan dan perasaaan sudah melakukan yang terbaik harus dihilangkan dari dalam hati. Kesombongan sangat berbahaya, karena penyakit ini menghapuskan posisi Allah SWT dalam hati kita. kita merasa dapat menetapkan semua kehidupan dengan kemampuan diri sendiri. Padahal, segala sesuatu ditetapkan oleh AllH SWT. Ikhtiar sekeras apapun tetap tidak akan membuahkan hasil jika Allah SWT tidak menetapkannya. Allah SWT Maha Perkasa dan kita manusia sangat lemah dihadapan-Nya. Berbagai masalah akan dihadapi denga baik oleh hamba yang tidak sombong di hadapan-Nya. Kita akan lulus jika sudah mengakui dengan penuh kesadaran dan sepenuh hati bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat Yang Maha Kuasa.
2. ‘Ujub (Merasa sudah berbuat dan berjasa)
Orang yang merasa sudah berbuat dan berjasa, saat menghadapi masalah akan sulit memeriksa dosa-dosanya. Ia hanya sibyk menceritakan apa yang sudah dilakukan, seolah semua keberhasilan karena ikhtiarnya, tidak ada Allah SWT dihatinya sebagai penentu Takdir dan merasa sudah melakukan banyak hal yang harus diakui oleh orang lain. Sangat bergantung terhadap penilaian, validasi, penghargaan, penghormatan dari makhluk. Rasulullah SAW bersabda,
“Tiga perkara yang merusak yaitu : kikir yang diturutkan, nafsu yang diikuti dan ketakjuban seseorang terhadap dirinya sendiri”.
(HR. Al Bazzar dan Abu Nuaim)
3. Sibuk memikirkan kesalahan orang lain terhadap diri (merasa dizhalimi dan jadi korban) sehingga tidak sempat memeriksa dosa-dosa diri karena sibuk melihat dosa orang lain.
Saat masalah hadir dalam hidup kita secara tiba-tiba, tentunya saat itu hati kiyta cenderung untuk fokus mencari penyebab , sibuk menyalahkan keadaan dan menyalahkan orang lain sebagai penyebab kejadian atau masalah tersebut. Hingga timbul amarah, luapan emosi yang menyebabkan kita lupa untuk mengevaluasi diri kita. Seharusnya, yang pertama kali kita lakukan adalah memeriksa atau muhasabah diri karena sesungguhnya semya perbuata kembali kepada diri, bebruat baik berarti berbat baik kepada diri sendiri, begitupun juga ketika berbuat buruk berarti berbuat buruk kepada diri sendiri. Jangan pernah menyalahkan siapapun karena bisa jadi semua keburukan atau masalah yang hadir menimpa hidup kita disebabakan oleh dosa-dosa diri kita.
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.
Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS. An Nisa : 79)
Kita sering kali luput memperhatikan diri sendiri. Padahal Allah SWT sudah memperingatkan bahwa setiap masalah pasti bersumber dari kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa diri. Oleh karena itu, muhasabah/memeriksa diri sendiri menjadi hal utama yang harus dilakukan saat mendapatkan masalah atau musibah.
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebaban oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”
(QS. Asy Syuara : 30)
4. Mencintai Dunia
Hal lain yang perlu diperhatikan untuk memeriksa atau muhasabah diri atas dosa-dosa yaitu kecintaan terhadap dunia. gemerlapnya dunia biasanya hanya menganggap pemeriksaan atas dosa-dosa diri sebagai deal untuk menerima pengampunan dari Allah SWT bukan sebagai salah satu cara untuk menyesali dosa dan untuk lebih dekat kepada Allah. Karenanya, tidak sedikit manusia yang jatuh dalam kecintaan dunia, memilih bertaubat namun taubatnya itu hanya sementara (taubat sambal) daripada taubatan nasuha. Padahal taubat nasuha adalah taubat yang paling menentramkan dalam hidup. Selain mendapat ketenangan, kebahagiaan dan keridhaan Allah, taubat nasuha dapat membuka jalan untuk solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Allah SWT berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ١٥
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٦
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Huud : 15-16)
5. Hawa Nafsu
Proses muhasabah atas dosa bisa gagal jika tidak mampu melawan hawa nafsu. Perang melawan hawa nafsu harus menang, karena jika tidak maka akan sulit untuk mengakui dosa dan menyesalinya. Tumbuhkan nafsu yang mendorong untuk berbuat baik, hadirkan Allah selalu di hati, dengan selalu megingat akhirat, lawan nafsu yang mendorong untuk berbuat yang tidak diridhai Allah SWT.
Semoga, Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi salah satu titik balik kita untuk menjadi pribadi yang baru, yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dengan muhasabah diri, harapannya hati kita kembali menjadi bersih dan terus mengingati Allah dalam segala kondisi. Ramadhan, selalu menjadi momentum yang pas untuk proses riyadhoh atau melatih diri, tidak hanya melatih dari rasa haus dan lapar, tapi juga melatih untuk memperbaiki diri dan meninggalkan jejak-jejak dosa dimasa lalu dan dimasa yang akan datang. Aamiin.
referensi : Khairati, Titian Taubat: Langkah Meraih Cinta Allah dan Kebahagiaan Hidup, Bandung: Emqies Publishing, 2018
