Futur ; Fenomena, Sebab, dan Solusinya (Bagian 2)

Mengenal Futur (bagian 2)

Selain berbagai penyebab futur (bagian 1) sebelumnnya, yang timbul dari dalam diri seorang muslim, terdapat pula berbagai godaan dari luar yang menghantam dinding keimanan seorang mukmin. Sehingga iman pun menjadi rapuh dan hati juga terasa berat dengan segala hal yang berkaitan dengan diin (agama) juga ibadahnya. Sebab-sebab tersebut antara lain :

 

Sebab Pertama : Pengaruh kehidupan dan kenikmatan dunia

Sebab ini ditandai dengan kecenderungana seseorang kepada dunia dan perhiasanannya serta tertipu dengan kenikmatan yang fana. Allah ﷻ memperingatkan kita agar jangan terpedaya dengan dunia dan seisinya, dalam firmanNya :

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fathir : 5)

 

Fudhail bin Iyadh radhiallahu’anhu berkata :

 

“Allah menjadikan semua keburukan di dalam satu rumah dan Dia jadikan kunci-kuncinya Adalah cinta dunia. Dia juga menjadikan seluruh kebaikan berada dalam satu rumah, dan Dia jadikan kunci-kuncinya berupa zuhud di dunia.

 

Jika seorang hamba telah mengetahui nilai dunia di sisi Allah ﷻ, yang kenikmatannya akan sirna dan keelokannya akan usang, pastilah ia tahu bahwa ia tidak diciptakan untuknya tetapi diciptakan untuk akhirat.

 

Sebab Kedua : Teman Bergaul yang Jahat.

Teman pergaulan yang jahat merupakan sebab terjangkitnya seseorang dari penyakit futur. Setiap kali jiwanya membisikkan agar kembali pada kebenaran dengan serta merta teman yang jahat in iakan menawarkan hal baru dari berbagai hawa nafsu serta bentuk kerusakan dan kekejian. Allah ﷻ berfirman :

 

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi air itu ia tidak akan mendapati sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisi-Nya, lalu Allah    memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.”(QS. An-Nuur : 39)

 

Allah ﷻ juga telah menggambarkan kerugian bergaul dengan teman yang jahat. Allah ﷻ berfirman :

 

“Dan (ingatlah) hari (Ketika itu) orang yang dzalim menggigit dua tangannya seraya berkata :‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an Ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan Adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”(QS. Al-Furqan : 27-29)

 

Sebaliknya jika berteman dengan orang-orang yang shalih, maka hal tersebut akan menambah keimanan kita kepada Allah ﷻ. Adanya teman yang shalih akan menjadi sebuah motivasi pada kebaikan dan mencegah dari kejahatan. Seorang muslim akan selalu diingatkan oleh sahabatnya yang shalih disaat ia lalai kepada Allah ﷻ. Ia pun akan menolngnya untuk taat kepada Rabb-Nya. Dalam hal ini, Allah ﷻ telah mewasiatkan kepada Nabi-Nya untuk berkawan Bersama mereka. Allah ﷻ berfirman :

 

“Dan bersabarlah kamu Bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini..”(QS. Al-Kahfi : 28)

 

Nabi ﷺ bersabda :

 

“Perumpamaan sahabat yang shalih dan yang jahat ialah bagaikan seorang penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, makai a bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau kamu akan membeli darinya atau paling tidak kamu akan mendapatkan bau wanginya. Sedangkan pandai besi, maka bisa jadi akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap.”

 

Allah ﷻ juga telah memperingatkan Nabi-Nya untuk tidak berteman dengan mereka :

 

“..Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”(Qs. Al-Kahfi : 28)

 

Sebab Ketiga : Melakukan Maksiat Ketika Sendiri

Sebab disaat sendiri, seorang muslim tidak mengetahui mana kebenaran dan kekeliruannya serta mana kekuatan dan kelemahannya. Sehingga, ia pun terkadang berjalan dalam kebutaan tanpa petunjuk yang terang dan tanpa hakim yang mengarahkannya. Akibatnya, setan pun mudah mengendalikannya agar ia merasa puas dan terjatuh. Dalam masalah ini, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada jama’ah serta memperingatkan kita dari berpecah-belah dan berselisih. Barangsiapa yang berpegang teguh dengan petunjuk-Nya, makai ia mendapat petunjuk. Barangsiapa yang menyelisihi jama’ahnya, maka ia tersesat dan binasa. Nabi ﷺ bersabda :

 

“Hendaklah kamu berjama’ah dan jangan berpecah belah, sesungguhnya setan itu bersama satu orang dan dari dua orang ia lebih jauh. Barangsiapa menginginkan tempat di tengah syurga yang baik, maka hendaknya ia melazimi jama’ah.” (HR. At-tirmidzi, sanad hasan shahih)

 

Sebab Keempat : Fanatisme Buta Kepada orang Shalih

Menggantungkan kondisi diin (agama) seseorang kepada keshalihan seorang manusia ketika masih hidup telah menjadi ulat yang membusukkan diin manusia tanpa disadarinya. Berapa banyak seseorang yang bergembira karena merasa telah mendapatkan hidayah, padahal ia tidak mendapatkan petunjuk? Justru prasangka mereka itu muncul karena kebanggaan telah mengikuti si fulan atau karena bagusnya suara atau rupanya. Sampai-sampai mereka mengikutinya dalam segala hal, serta menirunya dalam setiap perkara. Bahkan, ketika idolanya terkena penyakit futur (malas) pun mereka ikuti tanpa ragu. Sungguh merupakan kewajiban bagi kita untuk mencontoh Nabi ﷺ dalam seluruh peribadahan kita, serta mencontoh kaum salaf yang terpilih. Ibnu Mas’ud berkata :

 

“Barangsiapa di anatara kalian ingin mengikuti sunnah, hendaknya ia mengikuti (sunnah) orang yang telah meninggal, yakni para Sahabat Nabi Muhammad. Merekalah sebaik-baik umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit bebannya. Suatu kaum yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan mengestafetkan diin-Nya, maka tirulah akhlak dan jalan mereka. Merekalah sahabat Nabi Muhammad, mereka di atas petunjuk yang lurus.”

 

Sebab Kelima : Tersibukkan dengan Ilmu-Ilmu Dunia

Terkadang, ada diantara kita yang terlalu disibukkan dengan ilmu-ilmu dina yang sama seklai tidak diwajibkan. Bahkan, mereka membuka diri terhadap segala sarana untuk memperolehnya tanpa membedakan mana yang halal dan yang haram. Akibatnya, hatinya pun berbalik. Setelah hidup menjadi mati dan setelah mendapat petunjuk menjadi sesat. Karena itu, hendaknya manusia itu memberlakukan syariat dalam segala perbuatan dan tindakannya. Hendaknya pula, ia tidak menjadi mufti untuk dirinya dan memutuskan dengan hawa nafsunya. Allah ﷻ berfirman :

 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi Perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab : 36)

 

Tanda Dan Terapi Futur

Futur memiliki tanda-tanda yang mengarah pada berkurangnya keimanan dan goyahnya hubungan kita dengan Allah ﷻ sehingga memerlukan perbaikan dan peneguhan. Adapun tanda-tanda nya sebagai berikut :

  1. Kerasnya Hati

Kerasnya hari merupakan dinding penghalang bgi hati dari kekhusyukan kepada Allah ﷻ. Akibatnya hati pun tak lagi mengenal hal yang makruf, tak mengingkari kemungkaran. Allah ﷻ berfirman :

 

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hantinya untuk mengingati Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”(QS. Az-Zumar : 22)

 

Kemudian kerasnya hati ini akan terus berlanjut hingga pada tingkat kerasnya bebatuan.

 

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Baqarah : 74)

 

  1. Meremehkan Ketaatan

Ketika seseorang meremehkan ketaatan, baik dalam perkara yang wajib dan sunnah atau dari perkara yang mudah semisal dzikir atau yang lainnya. Atau jika seseorang melihat dirinya terasa berat melaksanakan ibadah, malas untuk bangkit, benci melakukannya, maka ketahuilah bahwa futur telah menjalar disegenap persendian dan mengalir dalam darahnya. Untuk mencela kelompok ini atau orang-orangyang terserang futur ini, Allah ﷻ berfirman :

 

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”(QS. An-Nisa : 142)

 

“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah : 54)

 

  1. Membenci Orang-orang Shalih

Tanda ini sangat tampak ketika seseorang membenci orang-orang shalih yang mengerjakan sunnah dan berusaha keras menegakkan syi’ar-syi’ar diin (agama) pada dirinya, keluarga, serta lingkungan mereka. Perkara tersebut akan menghilangkan keteguhannya di atas kebenaran, membuatnya menganggap remeh serta lesu dalam melakukan kebaikan atau ibadah. Umar Al-faruq berkata :

 

“Duduklah Bersama orang-orang yang selalu bertaubat sesungguhnya mereka Adalah yang paling lembut hatinya.”

 

Abu Darda’ juga berkata :

 

“Kalian akan selalu berada di atas kebaikan selama kalian mencintai orang-orang terbaik di antara kalian.”

 

  1. Hilangnya Kecemburuan Terhadap Agama

Tanda ini muncul Ketika seseorang telah kehilangan Nurani keagamaan dan tidak marah karena Allah ﷻ  ketika islam dihina. Disamping itu, hal lainnya ialah olok-olok, hinaan yang menghambat pengajaran-pengajaran ilmu islam serta peperangan yang destruktif yang keberadaannya dalam sejarah kaum muslimin belum pernah ada. Dan tidak sedikit pula kaum muslimin yang jatuh dalam jerat-jerat propaganda kekafiran baik dari Barat maupun dari Timur. Nabi ﷺbersabda :

 

“Berbagai fitnah akan dihadapkan pada hati, bagaikan tikar yang dianyam sehelai demi sehelai. Karena itulah, hati mana saja yang menerimanya, maka hatinya akan ternoda oleh titik hitam. Dan hati mana saja yang menolaknya, maka hatinya akan tertitik oleh titik putih. Sehingga, hati pun akhirnya terbagi menjadi dua macam. Hati yang putih bagaikan air jernih yang tidak tergoyahkan oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi. Dan yang lain adalah hati yang hitam lusuh bagikan cangkir yang terbalik, tiada mengenal yang makruf dan tiada mengingkari kemungkaran kecuali yang menyenangkan nafsunya.” (HR. Muslim)

 

  1. Tidak Bersyukur Saat Senang dan Tidak Bersabar Saat Susah.

Hal ini terjadi karena lemahnya keimanan dan lesunya hubungan antara hamba dan pencipta-Nya. Jika seorang hamba senantiasa menyikapi bahwa setiap nikmat itu berasal dari Allah ﷻ, niscaya ia akan bersyukur kepada-Nya. Begitupula saat musibah atau kesusahan menerpanya. Ia pun mengetahui jika itu ujian dari Allah ﷻ yang mengharuskannya bersabar demi memperoleh pahala orang-orang yang bersabar serta bisa sukses beserta orang-orang yang sukses. Nabi ﷺ bersabda :

 

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman itu. Sungguh, setiap urusannnya adalah baik. Dan tidaklah hal itu terjadi pada seseorang kecuali seorang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur. Maka, hal itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar. Maka, hal itu adalah kebaikan baginya.”(HR.Muslim)

 

  1. Terang-Terangan Dalam Bermaksiat

Terang-terangan dalam melakukan kemaksiatan dan tidak peduli jika orang lain mengetahuinya merupakan Tingkat futur tertinggi. Nabi ﷺ bersabda :

 

“Setiap ummatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan (muhajirin). Di antara perbuatan terang-terangan (mujaharah) ialah, seseorang berbuat kemaksiatan pada malam hari, kemudian datang waktu pagi, sementara Allah telah menutupinya, lalu ia berkata, ‘Wahai Fulan, aku telah berbuat begini dan begini semalam,’ padahal ia telah melewati malam, sedangkan Rabb-Nya telah menutupinya, lalu pada pagi harinya, ia menyingkapkan tabir Allah dari dirinya.” (HR. Muslim)

 

Demikianlah beberapa tanda yang tampak pada orang yang terserang penyakit futur. Adapun berkenaan dengan masalah sebab-sebab yang menjadikan seseorang futur juga sangat banyak. Antara satu lingkungan dengan lingkungan lainnya atau antara seseorang dengan orang lain akan berbeda, meski dalam beberapa hal memungkinkan adanya kesamaan.

 

 

Terapi Futur

Setelah mengetahui beberapa penyebab terjadinya penyakit futur dalam ibadah, tanda-tanda dan uraian seputar penyakit tersebut, maka saatnya pembicaraan tentang obatnya. Adapun obat yang manjur untuk penyakit futur adalah memotong penyebab-penyebab yang telah disebutkan sebelumnya dan berjalan di atas jalan alternatifnya, yaitu jalan-jalan yang mengantarkan keada keteguhan dan koimtmen dengan hidayah sehingga seorang hamba mengagungkan Rabb-nya di dalam hatinya.

Pengagungan ini diharapkan dapat membekass dan terwujud di dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan-keyakinannya. Kemudian dia pun akan mengikuti sunnah Nabi ﷺ tanpa mengurangi dan menambahinya. Serta menempatkan kematian mereka, neraka, dan syurga di antara kedua matanya, mengharap Rahmat Rabb-Nya dan takut akan adzab-Nya. Semua  itu dilakukan dalam keadaan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah ﷻ  (karena hal itu termasuk penguat hati) dan berjanji kepada dirinya untuk senantiasa bermuhasabah. Juga dengan mengambil teman-teman yang shalih, mendengar nasihat dan peringatan, serta menjauh dari pintu-pintu hawa nafsu dan fitnah dengan berbagai macam sarananya. Selain itu, seorang muslim juga diharapkan untuk selalu mengulang-ulang doa :

“Allahumma Musharrifal Qulub Sharrif Quluubanaa ‘ala Thoo’atik”

(Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu)

 

Referensi : Al-Hulaibi, Faishal bin Su’ud. Menjaga Stamina Iman. (Judul asli: Hada’iqul Ma’ruf). Solo: Penerbit Aqwam, 2007.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top