Dalam buku karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munjid berjudul Cara Nabi SAW Menegur dan Meluruskan Kesalahan, dijelaskan bahwa kemampuan menegur dan meluruskan kekeliruan merupakan salah satu bentuk akhlak yang sangat penting dalam Islam.. Di kehidupan sehari-hari, kesalahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Anak-anak melakukan kesalahan saat belajar, remaja sering keliru dalam mengambil keputusan, dan orang dewasa pun tidak luput dari kekhilafan dalam perkataan maupun perbuatan. Di rumah, di lingkungan sosial, bahkan di dunia kerja, kita hampir setiap hari berhadapan dengan situasi yang menuntut kita untuk mengoreksi, mengingatkan, atau menegur orang lain.
Sayangnya, tidak sedikit hubungan yang retak bukan karena kesalahannya terlalu besar, melainkan karena cara menegurnya yang kurang bijaksana. Sebuah nasihat yang seharusnya menjadi pintu perbaikan justru berubah menjadi sumber permusuhan karena disampaikan dengan kata-kata yang menyakitkan, nada yang merendahkan, atau dilakukan di hadapan banyak orang sehingga membuat seseorang merasa dipermalukan.
Fenomena ini sering kita jumpai. Orang tua membentak anak ketika melakukan kesalahan. Teman menegur temannya dengan sindiran yang menyakitkan. Atasan mempermalukan bawahannya di depan rekan kerja. Bahkan di media sosial, tidak sedikit orang yang memilih menghakimi dan mempermalukan kesalahan orang lain di ruang publik tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Padahal, Islam mengajarkan adab yang sangat indah dalam menegur dan meluruskan kesalahan. Rasulullah SAW, sebagai manusia terbaik dan pendidik agung sepanjang sejarah, tidak pernah mengedepankan kemarahan, penghinaan, atau sikap merendahkan ketika mendapati kesalahan pada diri para sahabatnya. Sebaliknya, beliau menunjukkan metode yang penuh hikmah, kasih sayang, dan kelembutan sehingga orang yang ditegur tidak merasa dipermalukan, melainkan terdorong untuk berubah menjadi lebih baik.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, metode Rasulullah SAW ini justru semakin relevan. Dalam lingkungan sosial, cara menegur yang baik dapat menjaga persahabatan dan mempererat hubungan keluarga. Sementara di dunia kerja, kemampuan memberikan masukan secara bijaksana merupakan salah satu keterampilan kepemimpinan yang sangat penting. Pemimpin yang mampu mengoreksi tanpa merendahkan akan lebih dihormati dan dicintai oleh timnya.
Lantas, bagaimana sebenarnya cara Rasulullah SAW menegur dan meluruskan kesalahan? Berikut beberapa pelajaran berharga yang dapat kita teladani.
- Ikhlas hanya karena Allah
Prinsip pertama dan paling mendasar dalam meluruskan kesalahan adalah melakukannya semata-mata karena mengharap ridha Allah SWT, bukan untuk menunjukkan diri lebih baik, mencari pujian, melampiaskan emosi, memenuhi ego diri untuk menunjukkan superioritas atau mempermalukan orang lain.
Ketika seseorang menegur dengan niat yang ikhlas, maka nasihat yang disampaikannya akan dipenuhi kasih sayang, kelembutan, dan keinginan tulus agar saudaranya menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika teguran dilandasi ego dan keinginan untuk menjatuhkan, maka yang muncul adalah kata-kata yang menyakitkan dan jauh dari hikmah.
Allah SWT berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam kehidupan sosial, keikhlasan membuat kita tidak mudah menghakimi kesalahan orang lain. Kita menasihati karena peduli, bukan karena merasa lebih suci. Di dunia kerja, seorang pemimpin yang mengoreksi bawahannya dengan niat membantu dan membimbing akan lebih dihormati daripada pemimpin yang menegur hanya untuk menunjukkan kekuasaan dan mencari kesalahan. Meluruskan kesalahan dengan ikhlas bukan hanya memperbaiki orang lain, tetapi juga menjadi sarana memperbaiki hati kita sendiri di hadapan Allah SWT.
- Berbuat salah adalah tabiat manusia.
Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam bersabda :
“Setiap anak Adam bersalah dan sebaik orang-orang yang bersalah ialah mereka yang bertaubat.” (HR. At-tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kenyataan ini merupakan pertimbangan bagi setipa muslim yang meletakkan masalah pada posisinya yang tepat. Sehingga mereka tidak mempunyai anggapan bahwa seseorang mempunyai kesucian(bebas dosa) atau kesempurnaan. Apabila atas Dasari ini, mereka menilai telah gagal seharusnya mereka memperlakukannya dengan perlakuan realistis. Yakni, perlakuan yang mengacu pada pandangan yang objektif tentang tabiat jiwa manusia yang tidak lepas dari pengaruh negative akibat kelengahan, kekurangan, emosi, dan kealpaan.
Kesadaran bahwa setiap manusia bisa salah juga akan melahirkan sifat tawadhu’ (rendah hati) dan empati. Ketika melihat orang lain melakukan kekeliruan, kita akan teringat bahwa diri kita pun tidak luput dari dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, nasihat yang diberikan tidak lagi bernuansa menghakimi, melainkan lahir dari rasa kasih sayang dan keinginan tulus agar saudara kita kembali kepada kebaikan.
Allah SWT berfirman:
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa’: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki berbagai keterbatasan, termasuk kelemahan dalam mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan keinginan. Karena itulah, Islam mengajarkan agar kita tidak tergesa-gesa menghukum atau mencela orang yang melakukan kesalahan, melainkan membimbing dan mengarahkannya menuju perbaikan.
Dalam kehidupan sosial, prinsip ini sangat relevan untuk menjaga keharmonisan hubungan. Persahabatan, hubungan suami istri, maupun hubungan antara orang tua dan anak sering kali retak karena masing-masing pihak sulit menerima bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa. Padahal, hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa kesalahan, tetapi hubungan yang diwarnai dengan kesediaan untuk saling memahami, memaafkan, dan memperbaiki.
Demikian pula di dunia kerja. Setiap karyawan, rekan kerja, maupun pemimpin berpotensi melakukan kesalahan. Seorang pemimpin yang memahami hakikat ini tidak akan menjadikan kesalahan bawahan sebagai sarana untuk mempermalukan atau menjatuhkan. Sebaliknya, ia akan melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk membimbing, memberikan evaluasi, dan membantu timnya bertumbuh menjadi lebih baik.
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan yang luar biasa. Ketika para sahabat melakukan kekeliruan, beliau tidak terburu-buru mencela mereka. Beliau memahami bahwa manusia membutuhkan proses untuk belajar dan berubah. Karena itu, teguran beliau selalu dipenuhi hikmah, kelembutan, dan harapan agar orang yang bersalah dapat memperbaiki dirinya.
Menyadari bahwa berbuat salah adalah tabiat manusia akan melahirkan sikap yang lebih bijaksana dalam menegur: tidak mudah marah, tidak merasa paling benar, dan tidak tergesa-gesa menghakimi. Sebab, hari ini kita mungkin sedang mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi bukan tidak mungkin esok hari kitalah yang membutuhkan nasihat dan pengingat dari saudara kita.
- Menegur kesalahan berdasarkan dalil syar’i dan bukti.
Hendaknya dalam menyatakan kesalahan berdasarkan dalil syar’I disertai dengan bukti, bukan karena kebodohan atau semata karena alasan selera juga prasangka.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (bashirah).” (QS. Yusuf: 108)
Kata bashirah dalam ayat ini bermakna ilmu, pemahaman, dan keyakinan yang didasarkan pada petunjuk yang jelas. Artinya, seorang Muslim tidak boleh mengajak, melarang, atau menyalahkan orang lain tanpa didasari ilmu yang benar.
Allah SWT juga berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Ayat ini mengingatkan agar seseorang tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan dugaan. Dalam urusan agama, menegur tanpa ilmu dapat menyebabkan seseorang justru mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah atau sebaliknya, membolehkan sesuatu yang dilarang oleh-Nya.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam bukunya Cara Nabi SAW Menegur dan Meluruskan Kesalahan menjelaskan bahwa koreksi terhadap suatu kesalahan harus dibangun di atas landasan ilmu dan dalil yang benar. Sebab, tidak semua perkara yang menurut kita aneh, berbeda, atau tidak biasa berarti salah menurut syariat.
Hal ini tercermin dalam riwayat sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwa Jabir pernah melaksanakan shalat dengan mengenakan satu helai kain yang diikatkan di bagian tengkuknya, sementara pakaian lainnya digantung. Ada seseorang yang mempertanyakan tindakannya tersebut. Jabir menjawab bahwa ia sengaja melakukannya agar orang-orang yang belum mengetahui hukumnya dapat melihat dan memahami bahwa shalat dengan satu kain hukumnya boleh, meskipun menggunakan dua helai kain lebih utama. Melalui peristiwa ini, Jabir ingin mengajarkan sebuah pelajaran penting: sesuatu tidak boleh dianggap salah hanya karena tidak sesuai dengan kebiasaan atau karena belum pernah kita lihat sebelumnya. Dalam perkara agama, ukuran benar dan salah adalah dalil syar’i, bukan selera pribadi atau tradisi yang berkembang di masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak sedikit konflik terjadi karena seseorang terburu-buru menyalahkan orang lain berdasarkan asumsi dan prasangka. Perbedaan cara beribadah, perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah, bahkan perbedaan budaya, sering kali menjadi sumber pertengkaran hanya karena kurangnya ilmu dan sikap tabayun.
Padahal, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Prinsip ini mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati sebelum memberikan penilaian kepada orang lain. Jangan sampai semangat menegakkan kebenaran justru berubah menjadi sikap mudah menghakimi tanpa dasar yang jelas.
Prinsip ini juga sangat relevan dalam dunia profesional. Seorang pemimpin tidak sepatutnya menegur bawahannya berdasarkan asumsi, gosip, atau penilaian subjektif. Koreksi dan evaluasi harus dilakukan berdasarkan data, fakta, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, seorang atasan tidak boleh langsung menuduh karyawan malas hanya karena melihat satu kesalahan atau keterlambatan. Ia perlu mencari informasi, memahami situasi secara utuh, dan mengumpulkan bukti sebelum memberikan penilaian. Sikap terburu-buru dalam mengoreksi tanpa dasar yang kuat sering kali menimbulkan rasa tidak adil, merusak kepercayaan, dan menurunkan semangat kerja.
- Semakin besar kesalahan, semakin besar pula perhatian untuk meluruskannya.
Dalam Islam, tidak semua kesalahan memiliki tingkat yang sama. Ada kesalahan yang dampaknya hanya dirasakan oleh pelakunya sendiri, tetapi ada pula kesalahan yang dapat merusak akidah, membahayakan banyak orang, atau mengakibatkan kerusakan yang lebih luas. Karena itu, semakin besar dampak suatu kesalahan, semakin besar pula perhatian dan kesungguhan dalam meluruskannya.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Rasulullah SAW memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesalahan yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan hak-hak sesama manusia. Beliau tidak membiarkan kesalahan besar berkembang dan menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Namun, dalam meluruskannya, beliau tetap mengedepankan hikmah, ilmu, dan kasih sayang.
Prinsip ini juga relevan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua tentu akan lebih serius ketika mendapati anaknya mulai berbohong atau bergaul dengan lingkungan yang buruk dibandingkan ketika anak melakukan kesalahan kecil yang tidak membahayakan. Demikian pula di dunia kerja, seorang pemimpin perlu memberikan perhatian lebih terhadap pelanggaran yang berdampak besar, seperti ketidakjujuran, penyalahgunaan wewenang, atau tindakan yang merugikan banyak pihak.
Dengan demikian, Islam mengajarkan bahwa semakin besar dampak suatu kesalahan, semakin besar pula kepedulian dan upaya untuk meluruskannya, agar kemungkaran tidak berkembang dan kebaikan tetap terjaga di tengah masyarakat.
- Mempertimbangkan posisi orang yang melakukan kesalahan
Sebagian orang mau menerima teguran dari seseorang, tapi tidak mau menerima dari orang lain meskipun persoalannya sama. Hal itu disebabkan mereka mempunya posisi khusus atau mereka mempunyai otoritas atau suatu kesalahan. Sebagai contoh adalah posisi atau otoritass ayah terhadap anaknya atau guru terhadap muridnya dan begitu seterusnya. Orang yang lebih senior tidak sama dengan orang yang sebaya atau lebih muda. Pemilik kekuasaan tidak sama dengan staff yang tidak mempunyai kekuasaan.
Dengan demikian, memahami kondisi ini akan dapat mendatangkan maslahat setelah menempatkan segala sesuatunya pada posisi yang tepat. Jika orang yang mempunyai posisi dan wibawa menegur kesalahan seseorang, maka reaksinya lebih efektif daripada jika dilakukan oleh orang yang posisinya sama atau lebih rendah. Oleh sebabnya itu, di sini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
- Bagi orang yang mempunyai kedudukan hendaknya memanfaatkan kedudukannya itu untuk menggalang amar ma’ruf nahi munkar dan membina Masyarakat. Hendaknya ia memahami tanggung jawab besar yang ada di pundaknya karena mereka lebih dapat menerima apa yang disampaikannya daripada jika disampaikan orang lain
- Bagi pelaku amar ma’ruf nahi munkar hendaknya tidak salah menempatkan diri pada posisi yang lebih tinggi dari yang sebenarnya. Disamping itu, ia harus mempunyai kepribadian yang integral akrena salah memposisikan diri dapat menyebabkan mereka tidak tertarik atau bahkan lari darinya.
Rasulullah SAW sendiri memanfaatkan kedudukan yang dianugerahkan Allah SWT untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan penuh hikmah. Ya’isy bin Thakhfah Al-Ghifari meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata:
“Aku pernah bermalam bersama para tamu miskin di rumah Rasulullah SAW. Pada suatu malam, Rasulullah SAW melihatku tidur dalam keadaan tengkurap. Beliau lalu membangunkanku dengan sentuhan kaki seraya bersabda, ‘Janganlah engkau tidur seperti ini, karena sesungguhnya ini adalah posisi tidur yang dimurkai Allah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Sesungguhnya ini adalah cara tidurnya penghuni neraka.” (HR. Ahmad)
Cara Rasulullah SAW menegur sahabat tersebut diterima dengan lapang dada dan penuh rasa hormat. Namun, metode seperti ini tidak serta-merta dapat diterapkan oleh setiap orang. Apa yang sesuai dilakukan oleh Rasulullah SAW belum tentu sesuai jika dilakukan oleh orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam meluruskan kesalahan tidak hanya bergantung pada isi nasihat, tetapi juga pada siapa yang menyampaikannya, bagaimana cara penyampaiannya, serta kesesuaian dengan kondisi dan situasi yang dihadapi.
Dengan demikian, mempertimbangkan posisi orang yang melakukan kesalahan dan orang yang memberikan teguran merupakan bagian dari hikmah dalam berdakwah. Tujuannya bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih tinggi, melainkan agar nasihat dapat diterima dengan baik dan menghasilkan perbaikan yang diharapkan. (Bersambung)

