Futur ialah jenis penyakit yang menebarkan racun dengan gerakan yang tersembunyi. Ketika ia menjangkiti hati atau akal seorang muslim. Kedatangannya tidaklah secara tiba-tiba melainkan setan menghiasinya dalam waktu panjang disertai dengan tipu dayanya yang membidikkan penyakit tersebut dengan berbagai macam. Tak jarang, pelakunya pun merasa dirinya berada di atas kebenaran padahal sebenarnya berada di atas kesalahan atau di pinggir jurang. Pada zaman ini, jeratan kefuturan hadir dalam berbagai macam bentuk dan pengaruhnya bisa dikenali oleh penderitannya, baik dengan mengetahui penyakit tersebut maupun menyadari akibatnya. Meskipun terkadang penyakit ini membentuk keperibadian lain pada jiwa orang-orang yang terjangkiti. Misalnya kesedihan, kebingungan, ketakutan dan sejenisnya.
Futur bisa diartikan sebagai “patah arang” dan “lemah”. Mungkin sepintas kita telah mendapatkan gambaran yang jelas, bahwa kalimat ini mengisyaratkan jika “kelemahan” ini sebelumnya telah didahului oleh kekuatan dan “patah arang” telah diawali dengan keteguhan. Karena itu ahli Bahasa berkata lafal “Fatara” maksudnya tenang setelah bergerak dan lembek setelah keras. Dapat disimpulkan, futur ialah suatu penyakit yang menimpa orang-orang kuat dan selalu mengintai setiap orang yang berusaha menuju kesempurnaan dirinya.
Sebelum mengenali sebab-sebab terjangkitnya penyakit futur dalam diri seorang mukmin, terlebih dahulu kita harus mengetahui hakikat serta aksioma yang berkaitan langsung dengan permasalahan lemahnya keimanan seorang mukmin. Dalam hal ini, ada bebebrapa kaidah-kaidah yang harus diketahui :
- Kaidah pertama : Semua Manusia Berpotensi Terserang Futur
Hal ini merupakan perkara yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ serta dijadikan ciri khas bagi setiap anak Adam. Beliau ﷺ bersabda :
“Setiap anak Adam (manusia) berbuat keliru dan sebaik-baik orang yang berbuat keliru adalah yang bertaubat”. (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-darimi. Sanadnya hasan. Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dan beliau menshahihkannya).
Karena manusia memiliki fitrah terjerumus ke dalam kemaksiatan dan jatuh ke dalam kesalahan, maka Allah ﷻ menunjukkan jalan keluar darinya yakni dengan bertaubat.
Allah ﷻ dalam hal ini juga memotivasi manusia pada jalan keselamatan yang berupa ampunan atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Bukan hanya itu, Allah ﷻ juga akan mengganti kejelakan yang telah lalu dengan kebaikan. Allah ﷻ berfirman :
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan : 70).
- Kaidah Kedua : Hati Manusia Akan Selalu Berbolak-balik
Sesungguhnya, sekalipun kondisi hati seseorang itu sangat bening, teguh di atas iman dan mampu merasakan manisnya iman, ia tetap saja sebagai hati yang rentan dan mudah berbolak-balik. Nabi ﷺ bersabda :
“sesungguhnya dinamakannya Qalbu adalah tidak lain karena mudahnya ia berbolak-balik; perumpamaan Qalbu adalah sebagaimana sehelai bulu yang menempel pada batang pohon yang dibolak-balik angin.” (HR. Ahmad. Sanadnya shahih)
Nabi ﷺ juga membuat satu perumpamaan dalam sabdanya :
“Sungguh hati anak Adam itu cepat berbalik dibanding bolak-baliknya air di dalam periuk yang sedang mendidih.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim. Sanadnya shahih)
Lalu, siapakah yang mampu membolak-balikkan dan mengubah hati manusia? Ya, Dialah Allah ﷻ yang mampu melakukannya. Nabi ﷺ bersabda :
“Sesungguhnya hati anak Adam itu berada di antara dua jari-jarinya Ar-Rahman, sebagaimana satu hati, Dia mengubah-ubahnya sekehendak-Nya,”. Kemudian beliau ﷺ melanjutkan, “Ya Allah , yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”
- Kaidah ketiga : Iman Bertambah Karena Ketaatan, Berkurang Karena Kemaksiatan.
Para Salafus Shalih menyifati keimanan sebagai sesuatu yang bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiaan. Dengan demikian, apakah sama keimanan seorang hamba yang hatinya senantiasa tertambat dengan masjid, jatuh cinta kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya, cahaya Al-Qur’an menerangi akal dan hatinya, dibandingkan dengan orang yang berpaling dari semua itu?
Apakah sama antara orang yang Allah ﷻ telah berfirman tentangnya :
“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal : 2)
Apakah sama antara mereka dengan orang yang Allah ﷻ firmankan tentangnya :
“Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesal-lah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah uang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar : 45)
- Kaidah Keempat : Keimanan Yang Mantap Diperoleh Melalui Ibadah Yang Paling Agung.
Terwujudnya konsistensi hati dalam derajat tertinggi keimanan, diperoleh memlalui Tingkat ibadah yang paling agung dan paling berpengruh terhadap hati, seperti shalat, haji, puasa, membaca Al-Qur’an dan Qiyamul lail. Namun, perkara tersebut terkadang menjadi hal yang suit disebabkan karena hati sangat sibuk dengan aktifitas-aktifitas keduniawian dan kelezatannya.
Setelah sebelumnya dijelaskan mengenai kaidah-kaidah terkait penyakit futur, sekarang saatnya mengetahui mengenai sebab-sebab baik internal maupun eksternal yang menjadikan futur menyerang hati pelakunya. Adapun sebab di sini ialah jalan yang mengantarkan lemahnya keimanan seorang hamba yang sebelumnya kuat dan teguh menjadi lemah dan rapuh.
- Sebab Pertama: Tiada Penjagaan Terhadap Iman.
Dengan tidak adanya penjagaan dan introspeksi seorang hamba terhadap kondisi keimanannya dari waktu ke waktu akan menyebabkan dirinya terserang sebab-sebab futur dari segala penjuru. Sehingga, bangunan keimanan alam dirinya pun hancur satu demi satu. Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata :
“Di antara kecerdikan seorang hamba ialah hendaknya ia memperhatikan keimanannya dan apa yang berkurang darinya, dan diantara kecerdikan seorang hamba ialah hendaknya ia mengetahui bertambah atau berkurangkah ia (keimanannya)?”
- Sebab Kedua : Jahil Terhadap Jannah dan Janji-Janji Allah ﷻ .
Terkadang, di antara para pelaku ibadah terdapat orang-orang yang jahil pada apa yang telah Allah ﷻ persiapkan bagi orang-orang yang bertakwa, yakni Jannah. Atau dalam kata lain, pura-pura bodoh dan tidak mengingat-ingatnya dari waktu ke waktu.
Maka, jika seseorang telah mengalami keadaan seperti ini, ia pasti bosan beribadah dan bermalas-malasan. Sebab ia mulai bergantung pada pujian serta mencari hadiah atas perbuatan makrufnya. Padahal, Allah ﷻ telah mempersiapkan Jannah untuk hamba-Nya beserta kenikmatan yang tak terlukiskan oleh hati dan pikiran.
- Sebab ketiga : Merasa Jauh Dari Adzab Dunia dan Meremehkan Adzab Akhirat.
Diantara orang yang beribadah terdapat orang-orang yang lalai sehingga mereka menganggap dirinya jauh dari adzab dunia. Bahkan, ia pun menganggap bahwa adzab akhirat hanyalah bersifat abstrak. Sebab ketiga ini berhubungan erat dengan sebab-sebab sebeumnya. Karena, kenikmatan iman hanya bisa dirasakan seorang mukmin melalui 2 hal, yaitu mengharap pahala Allah ﷻ dan takut terhadap adzab-Nya.
Seorang Salafus Shalih berkata :
“Sungguh aku merasakan pengaruh maksiatku pada keluarga dan Binatang tungganganku.”
- Sebab Keempat : Panjang Angan-Angan
Inilah sang pembunuh, penghancur kekuatan, sahabat karib bagi penundaan dan keterlambatan, kekasih para pemalas serta musuh orang-orang bertakwa dan yang sadar. Allah ﷻ berfirman :
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr : 3
- Sebab kelima : Memaksakan Diri Dalam Beribadah
Diantara sebab-sebab futur ialah memaksakan diri beribadah di luar kebiasaannya. Apabila ia terus menerus mengerjakan ketaatan tersbeut dengan nuansa keterpaksaan yang melilitnya penyakit futur pasti akan menimpanya. Sebab ia telah menyelisihi manhaj Nabawi yang mulia, yakni seorang mukmin hendaknya memilih amal yang ia mampu agar terhindar dari kebosanan dan kejenuhan. Biasanya, akhir dari perkara ini ialah dengan ditinggalkannya amal tersebut.
Allah ﷻ telah memberi petunjuk tentang hal ini, dalam firman-nya :
“Maka, bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”(QS. At-taghabun : 16)
Berkaitan ini Rasulullah ﷺ pernah menggambar jalan lurus di dalam amal shaleh dengan peribadahan, yakni bersikap tawasuth (pertengahan) dalam beribadah serta tidak berlebih-lebihan atau meremehkan. Dengan demikian seorang mukmin akan tetap konsisten dan tak mengenal putus asa. Bahkan, Rasulullah ﷺ pun mengancam orang-orang yang berlebih-lebihan dalam diin (Agama), yang memaksakan diri dalam beribadah di luar kemampuannya dengan kebinasaan.
Nabi ﷺ bersabda :
“Celakalah Mutanatthi’un (orang-orang yang berlebih-lebihan di dalam melaksanakan syari’at). Beliau mengucapkannya sebanyak 3 kali.
- Sebab Keenam : Membuat Hal-Hal Baru Dalam Agama
Hal ini merupakan sebab-sebab futur yang tersembunyi, serta pintu masuk setan ke dalam jiwa manusia yang kurang diwaspadai.semua ini karena syariat nan indah ini memang bukan buatan manusia. Akan tetapi, hukum-hukumnya berasal dari Allah ﷻ. Ia datang berasal dari Kalamullah dan Sunnah Nabi ﷺ , yakni berdasarkan wahyu dan bukan kata-kata yang beliau ucapkan dari hawa nafsunya saja.
Adapun jika mengurangi ajaran Agama ini, kemaksiatannya sudah jelas dan tidak perlu dijelaskan lagi. Sebab, manusia itu memang tidak boleh memilih-milih urusan Agama yang enak-enak saja dan meninggalkan yang tidak disukainya. Adapun menambah-nambah dalam urusan Agama, meski mengedepankan ibadah-ibadah atau dzikir-dzikir atau menciptakan cara-cara baru dalam melaksanakan ketaatan, pada hakikatnya itu semua terdapat penambahan beban dan masyaqqah (kesulitan) pada hamba. Karena itu, kadang hal tersebut membuat manusia benci terhadap ibadah yang telah diwajibkan Rabb-Nya dan disyariatkan Nabi-Nya. Sebab, manusia memiliki waktu yang sempit sementara ia harus memikul banyak kewajiban Agama ini. Sehingga, hal itu mendorongnya meninggalkan apa yang seharusnya ia kerjakan karena melakukan kebid’ahan yang tertolak.
- Sebab Ketujuh : Tidak Memahami Ma’rifatullah Dengan Benar.
Sebab ini dikarenakan seseorang tidak mengetahui Allah ﷻ dengan sebenar-benar pengetahuan dan bodoh dengan keagungan-Nya atas seluruh Makhluknya. Karena orang yang mengetahui Allah ﷻ dengan nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya jiwanya tidak akan berani meremehkan ibadah kepada-Nya apalagi berkubang kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.
Allah ﷻ berfirman :
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, Ketika mereka pada suatu malam mereka menetapkan Keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (Ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’ : 108)
- Sebab Kedelapan : Meremehkan Dosa-Dosa Kecil
Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
“Jauhilah dosa-dosa (kecil), sesungguhnya ia akan berkumpul pada seseorang sehingga mencelakakannya sebagaimana satu kaum yang singgah di suatu padang, lalu datanglah pemimpin kaum tersebut, menyuruh setiap laki-laki mencari sebatang kayu sehingga mereka mengumpulkannya dalam jumlah yang banyak kemudian mereka menyalakan api dan memasak apa yang mereka panggang di dalamnya.” (HR. Ahmad. Sanad shahih)
- Sebab Kesembilan : Lalai Mengintrospeksi Diri
Ketika seseorang menjalani kehidupan di dunia ini tanpa melakukan introspeksi diri, ia akan sering tergelincir dalam perbuatan dosa. Dia tidak tahu apa yang ia perbuat dan tak memahami apa yang dikatakannya. Selain itu, dia tidak mau memperbaiki kesalahannya dan tidak giat dalam mengerjakan ketaatan.
Introspeksi diri (muhasabah) merupakan pekerjaan orang-orang shaleh dan bertakwa yang selalu menyambut seruan Ar-rahman saat Dia berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan hari esok..” (QS. Al-Hasyr : 18)
Referensi : Al-Hulaibi, Faishal bin Su’ud. Menjaga Stamina Iman. (Judul asli: Hada’iqul Ma’ruf). Solo: Penerbit Aqwam, 2007.

