Al-Battani adalah salah satu ilmuwan Muslim terkemuka pada abad pertengahan yang kiprahnya di bidang astronomi dan matematika diakui hingga saat ini. Penemuannya menjadi fondasi penting dalam perhitungan waktu modern. Berkat pengamatan akuratnya, kita mengetahui bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik (atau 365,24 hari menurut sumber lain). Temuan ini menjadi pijakan penting dalam kalender yang digunakan dunia saat ini.
Lahir sekitar tahun 858 di Harran, kawasan yang kini masuk wilayah Turki, Al-Battani memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani. Ia adalah putra dari Jabir Ibn San’an Al-Battani, seorang ilmuwan di bidang astronomi. Uniknya, Al-Battani merupakan satu-satunya Muslim dalam keluarganya, yang mayoritas menganut sekte Sabian, sebuah kepercayaan yang kala itu mempraktikkan ritual penyembahan benda langit atau binatang.
Sejak usia muda, minat Al-Battani pada benda-benda langit sudah tampak menonjol. Rasa ingin tahunya yang besar mendorongnya mendalami ilmu astronomi secara serius. Kecerdasannya membawanya pada pengembangan teori astronom terkenal Ptolomeus. Dalam karya monumental Ptolomeus The Almagest, Al-Battani melakukan revisi yang menghasilkan data lebih akurat tentang tata surya dan pergerakan benda langit.
Menurut Joseph A. Angelo dalam Encyclopedia of Space and Astronomy (2006), Al-Battani berhasil memperbaiki pengukuran kemiringan sumbu bumi dan mempelajari fenomena ekuinoks — saat posisi matahari tepat berada di garis ekuator bumi — khususnya pada awal musim gugur. Melalui serangkaian pengamatan yang konsisten, ia menyimpulkan bahwa satu tahun tropis berlangsung selama 365,24 hari, sebuah angka yang sangat dekat dengan hasil pengukuran modern.
Selain itu, Al-Battani juga memberikan kontribusi besar dalam penentuan panjang tahun matahari, perhitungan orbit bulan, dan posisi planet-planet. Temuannya tidak hanya berpengaruh pada perkembangan astronomi Islam, tetapi juga menjadi rujukan bagi ilmuwan Eropa pada masa kebangkitan ilmu pengetahuan (Renaissance).
Warisan intelektual Al-Battani menunjukkan betapa besarnya peran ilmuwan Muslim dalam membangun peradaban sains dunia. Ia membuktikan bahwa dengan ketekunan, ketelitian, dan rasa ingin tahu yang tinggi, pengetahuan manusia dapat berkembang jauh melampaui batas zamannya. Hingga kini, nama Al-Battani tetap dikenang sebagai pelopor pengukuran waktu dan perhitungan astronomi yang presisi.
Intisari
Sumber: tirto.id

