Mencegah Bullying di Sekolah, Langkah Membangun Lingkungan Belajar yang Aman

Bullying di sekolah

Pandeglang – Fenomena perundungan atau bullying di sekolah atau lingkungan pendidikan kembali menjadi perhatian berbagai pihak. Praktik yang kerap dianggap sepele ini nyatanya dapat memberikan dampak panjang terhadap tumbuh kembang anak, baik secara mental, sosial, maupun akademik. Karena itu, upaya pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan semua elemen, mulai dari sekolah, keluarga, hingga masyarakat.

Pekerja Sosial sekaligus Pemerhati Sosial Kabupaten Pandeglang, Ahmad Subhan, menilai bahwa kasus bullying di wilayah Pandeglang sejauh ini masih dalam kategori yang dapat dikendalikan. Beberapa kasus yang muncul telah ditangani melalui pendekatan diversi dan pembinaan secara edukatif.

“Dampak ini tidak hanya dirasakan secara instan, tetapi sering kali menetap dan memengaruhi perkembangan anak hingga mereka beranjak dewasa,” kata Ahmad Subhan saat memberikan keterangannya pada Senin, 4 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa perundungan dapat memengaruhi kondisi psikologis anak dan berdampak langsung pada semangat belajar serta perkembangan kognitif siswa. Oleh sebab itu, perilaku bullying tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa ataupun kenakalan yang dibiarkan tanpa penanganan serius.

“Dan untuk Pandeglang sendiri untuk saat ini tidak terlalu signifikan dalam kasus bullying yang ditangani hanya beberapa sekolah. itupun kita melakukan diversi,” katanya.

Menurut Ahmad, penanganan bullying di sekolah harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Sekolah perlu memiliki sistem perlindungan yang jelas agar siswa merasa aman dan nyaman selama menjalani proses pendidikan.

“Sekolah harus memiliki aturan tertulis yang tegas mengenai bullying, yang mencakup definisi bullying (fisik, verbal, sosial, siber), larangan, dan konsekuensi yang akan diterima. Aturan ini harus disosialisasikan kepada siswa, guru, dan orang tua,” katanya.

Selain penguatan regulasi, budaya saling menghargai juga perlu ditanamkan melalui kegiatan pembelajaran maupun aktivitas ekstrakurikuler. Penanaman nilai empati, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan dinilai menjadi langkah penting dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat.

Ahmad juga menekankan pentingnya peran guru sebagai pihak yang paling dekat dengan siswa selama proses belajar berlangsung.

“Guru seringkali menjadi garda terdepan. Mereka perlu dilatih untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal bullying, bagaimana mengintervensi dengan aman, dan bagaimana merespons laporan dari siswa,” katanya.

Tidak hanya itu, pengawasan terhadap area-area yang minim kontrol seperti koridor, toilet, maupun kantin sekolah juga perlu ditingkatkan guna meminimalkan potensi terjadinya tindakan perundungan.

“Pencegahan bullying dalam lingkungan sekolah merupakan tantangan kompleks yang memerlukan pendekatan sistematis, baik dari sisi kebijakan, budaya, maupun keterlibatan komunitas. Dan tentu kita harus memahami bahwa solusi paling efektif biasanya melibatkan integrasi antara aturan yang jelas (top-down) dan perubahan perilaku di akar rumput (bottom-up),” katanya.

Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak menjadi tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi yang baik antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, diharapkan setiap anak dapat tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, berakhlak, serta bebas dari kekerasan dan perundungan.

 

Referensi : https://www.radarbanten.co.id/2026/05/04/memahami-bahaya-bullying-sebuah-fenomena-sosial-yang-memiliki-dampak-sistemik/

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top