Sebagai orang tua, peran dalam mendidik anak tidak hanya terbatas pada hal-hal formal seperti sekolah. Orang tua memiliki kesempatan luar biasa untuk menjadi fasilitator pembelajaran anak di rumah yang mendukung proses pembelajaran anak dengan cara-cara yang sederhana namun berdampak besar. Riset telah menunjukkan bahwa manusia mengingat dengan lebih baik melalui praktik. ini berlaku juga untuk orang dewasa. Belajar melalui praktik lansgung baik bagi anak-anak dan orang dewasa. Pembelajar secara aktif terlibat alih-alih hanya duduk dan mendengarkan. Inilah cara yang kita kehendaki untuk anak kita, yang ternyata didukung oleh riset. Berikut adalah 11 cara menjadi fasilitator pembelajaran anak di rumah dengan beberapa contoh aktivitas yang bisa dilakukan orang tua untuk memaksimalkan potensi anak dalam pembelajaran, baik itu dalam aspek akademis, sosial, maupun emosional.
- Membacakan Buku atau Mendongeng
Membacakan buku atau mendongeng sebelum tidur tidak hanya mempererat hubungan emosional dengan anak, tetapi juga merangsang imajinasi, memperkaya kosakata, dan mengajarkan nilai-nilai moral melalui cerita yang disampaikan. Jika dilakukan secara rutin, momen ini walaupun singkat akan menjadi momen kebersamaan yang menyegarkan, baik bagi orang tua maupun anak. - Bercerita tentang Masa Kanak-Kanak Anda
Setiap saat, setiap ada momen, setiap anda ingat pengalaman anda dulu, anak-anak akan senang sekali mendengarkannya. Mengajak anak mendengar kisah dari masa kecil Anda bisa memberikan banyak pelajaran hidup. Selain itu, ini menjadi cara efektif untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab, membangun rasa percaya diri anak, dan menanamkan nilai-nilai yang Anda pegang. - Makan Bersama Sambil Mengobrol
Waktu makan bersama adalah momen yang tepat untuk berbicara dengan anak. Ajak anak berbagi cerita tentang aktivitas mereka hari itu, hal-hal yang mereka sukai, atau bahkan tantangan yang mereka hadapi. Ini akan membangun keterbukaan serta kemampuan berkomunikasi anak dengan lebih baik. Misalnya setiap anggota keluarga bergiliran menyebutkan satu keberhasilan atau kejadian yang paling menyenangkannya hari ini. - Merutinkan Momen Bersyukur
Mengajarkan anak untuk selalu bersyukur bisa dilakukan melalui kebiasaan sederhana, seperti mengungkapkan hal-hal baik yang telah mereka alami setiap hari sebelum tidur. Ini dapat membentuk karakter anak menjadi pribadi yang positif dan menghargai hal-hal kecil dalam hidup. Contohnya, ketika mengantarkan anak tidur, anda bisa memberi contoh menyebutkan satu hal yang paling anda syukuri hari ini. - Permainan Tebak-Tebakan
Aktivitas permainan tebak-tebakan bukan hanya seru, tapi juga melatih anak berpikir kreatif dan mengasah kemampuan memecahkan masalah. Ciptakan permainan yang melibatkan pengetahuan umum atau situasi sehari-hari agar anak terus tertantang untuk berpikir di luar kotak. Contohnya, dalam perjalanan menggunakan kendaraan yang membosankan, orang tua bisa mengajak anak melakukan permainan tebak-tebakan mencari huruf di papan reklame, menghitung mobil sejenis dan hal-hal lainnya. - Selalu Jawab Pertanyaan Anak
Rasa penasaran anak adalah pintu masuk menuju dunia pembelajaran. Usahakan untuk selalu memberikan jawaban yang sesuai dengan usia anak setiap kali mereka bertanya. Jika tidak tahu jawabannya, Anda bisa belajar bersama anak, sehingga proses belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan dan interaktif. Contohnya, minimal bisa dimulai dengan , “Yuk, kita cari jawabannya di buku”. Hindari jawaban malas : “Ayah tidak tahu” atau “tanya saja kepada Ayah/Ibu” - Beri Anak Kesempatan Membantu Tugas Rumah Tangga
Melibatkan anak dalam tugas rumah tangga, seperti merapikan tempat tidur atau mencuci piring, mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian. Selain itu, ini juga melatih keterampilan motorik dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan rumah. Tunjukkan bagaimana orang tua melakukannya, tapi terima bagaimanapun hasil pekerjaannya. Hargai lipatannya yang seperti gundukkan. Tak perlu orang tua melipat ulang selimutnya. Sejalan waktu, lipatannya akan semakin rapi. - Beri Anak Kesempatan Memilih untuk Diri Sendiri dan Keluarga
Memberikan kebebasan kepada anak untuk membuat pilihan, misalnya memilih menu makan malam atau aktivitas keluarga di akhir pekan, dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Hal ini juga mengajarkan anak pentingnya pengambilan keputusan sejak dini. - Gunakan Momen Membuat Kesalahan untuk Belajar
Ketika anak melakukan kesalahan, gunakan momen tersebut sebagai kesempatan belajar. Jangan hanya menekankan pada konsekuensi negatif, tetapi ajak anak memahami mengapa hal itu salah dan bagaimana caranya memperbaiki diri. Ini akan membentuk pola pikir berkembang (growth mindset) pada anak. Misalnya, orang tua menemukan anak tanpa sengaja menyaksikan adegan yang tidak sesuai untuk usianya, alih-alih menjerit panik menyuruhnya mematikan televisi, orang tua dengan tenang mengalihkan saluran dan menjelaskan apa yang dilihat anak-anak. - Orang Tua Juga Bisa Belajar dari Anak
Anak sering kali memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang dunia. Jangan ragu untuk belajar dari anak, baik dari sudut pandang mereka yang penuh kreativitas maupun dari sikap jujur dan polos mereka. Proses belajar ini bersifat dua arah, dan anak pun akan merasa dihargai ketika orang tua membuka diri untuk belajar bersama mereka. Bisa berupa sikap dan perilakunya, ide-ide cemerlang dan pengetahuannya, yang tidak anda sangka-sangka. Pada saat-saat seperti itu, akui bahwa orang tua belajar dari anak, bahwa anak memberi inspirasi dan pengetahuan orang tua bertambah karenanya. - Ingat, Orang Tua Juga Manusia yang Penuh Kelemahan
Sebagai orang tua, tak jarang kita merasa harus selalu sempurna di hadapan anak. Namun, sesungguhnya menunjukkan bahwa kita juga memiliki kekurangan adalah pelajaran berharga bagi anak. Dengan mengakui ketidaksempurnaan kita, anak akan belajar bahwa kesalahan adalah bagian alami dari hidup dan kesempatan untuk terus belajar. Akui kesalahan yang orang tua lakukan, minta maaflah dengan tulus. Sebaliknya, terimalah permintaan maaf pihak lain, lupakan kesalahannya, jangan diungkit-ungkit lagi.
Dengan mempraktikkan cara-cara sederhana di atas, orang tua selain bisa menjadi fasilitator pembelajaran anak di rumah juga dapat menciptakan lingkungan belajar yang kaya dan mendukung perkembangan anak di berbagai aspek. Bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan sosial anak yang akan tumbuh secara optimal melalui kegiatan-kegiatan sehari-hari yang bermakna.

